10 Maret
2020
Ya begitulah kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, tidak
ada yang salah, hanya saja artinya tidak seperti yang dimaksudkan. Kami (Saya
dan Istri) mengikuti sebuah Mentoring “Trancending Level of Consciousness” oleh
Bang Aswar dari Pure Conscioudness Indonesia. Yang dilaksanankan di Semarang
selama 2 hari (7-8 Maret 2020).
Kami belajar bersama dengan peserta yang lainnya yang mengikuti
Mentoring ini. Pasti anda bertanya “Apasih itu Mentoring TLoC?”. Kalau ditanya saya
hanya bisa menjelaskan dari pemahaman saya yang sifatnya opni, karena setiap
peserta yang hadir merasakan pengalaman yang berbeda-beda.
Mentoring TLoC bagi saya adalah bagaimana kita memandang
segala sesuatunya bukan lagi dari yang mengalami tetapi sebagai yang mengamati
(Observer) sehingga tidak lagi terjebak dan terserap dalam ruang-waktu. Kita
bisa memandang tanpa membebani sebuah masalah dengan nilai-nilai yang kita
sematkan pada sebuah masalah. Kita memandangnya murni, semua kejadian adalah
positif. Mampu meberikan kemaknaan bagi pengalaman kehidupan kita sebagai
manusia maupun sebagai spiritual being.
Memandang kehidupan sebagai sesuatu yang kualitatif bukan
lagi yang kuantitatif, nilai-nilai ditetapkan berdasarkan kualitasnya, bukan lagi
kepada kuantintasnya.
Tidak peduli berapa lama anda sudah hidup dan mengalami
kehidupan, siapapun masih bisa melakukan perubahan ini.
Kehidupan
Orang lain juga mewakili kehidupan kita (Anda dan saya)
Ini saya rasakan ketika saya menyaksikan seorang peserta yang
maju dan sedang mengalami “Mentoring” untuk mentransendensikan Level
Kesadarannya. Berbagai pengalaman di LoC 20-175, di sampaikan dengan detail
oleh salah seorang peserta TLoC ini, yang dilakukan Bang Aswar hanya mencatat
di flip chart dan menanyakan event-event yang dialami beserta emosi yang
terkandung di dalamnya. Sebelum kelas Mentoring ini, sebelumnya saya sudah
pernah mengikuti workshopnya PCI yang dilakukan di surabaya, kurang lebih saya
punya gambaran bagaimana itu mentoring TLoC, sehingga konsepnya saya sudah
pernah tahu.
Tapi kali ini di dalam Mentoring TLoC ini, lebih dalam lagi,
sebuah deep interview di dalam level Experiencer yang sedang di mentoring
tersebut. Kadang event-event yang di ceritakan juga terjadi di kehidupan
peserta-peserta yang lainnya, maka kita merasakannya juga, baik emosinya maupun
experience nya, ikut empati di dalam mentoring tersebut. Kepedihan, kesedihan,
kemarahan kebencian dan segala macam emosi yang terkuak di dalamnya ikut
merasakan keadaan tersebut, bagi mereka yang emosi dan experience nya terwakili.
Tidak
Mau Rugi
Ini positif lho, karena anda harus mendapatkan apa yang sudah
anda keluarkan. Artinya saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk di
Transendensikan Level Kesadaran saya.
Kalau sebelum saya maju, ada peserta yang memiliki event yang
berupa relasi dengan keluarga, dan kalau saya diberi kesempatan untuk
mengungkapkan event-event yang terkait uang. Sangatlah tepat dan sudah benar
adanya. Memang bukanlah sebuah kebetulan lagi. Jadi saya ceritakan di sesi
mentoring itu, bagaiman pengalaman saya terkait demgan uang dan bagaimana
kehidupan saya dari kecil terkait dengan “Uang” dan perangkat yang bersamaan
dengan “uang”.
Disitulah mulai terungkap satu-persatu bahwa uang yang saya
kenal merupakan sebuah persepsi yang tidak tepat di dalam life view saya, bahwa
“kehilangan uang itu wajar”, “uang itu untuk dihabiskan”. Dan yang paling
menohok adalah hidup itu bukan sekedar suvive, kita harus bisa berkarya di
dalam kehidupan ini, bukan saja sekedar “hidup” tetapi memberikan kebermaknaan
di dalamnya.
Ada beberapa event yang mampu menemukan jiwa yang terluka
yang sebelumnya belum bisa saya temukan selama ini. Ada jiwa saya yang masih
hidup di event itu, dia menuntut saya untuk diperhatikan, dengan cara
mensabotase kehidupan saya tanpa saya sadari sehingga membentuk fenomena bola
salju yang semakin lama akan semakin membesar dan semuanya saling berkaitan
terhadap bagaimana saya memandang kehidupan ini, sehingga saya mengalami
pengulangan-pengulangan, kesalahan demi kesalahan yang saya alami saling
terkait satu sama lainnya.
Dengan ditemukannya jiwa yang ini, maka saya bisa bertumbuh
menjadi pribadi yang lebih baik, sedikit-demi sedikit hambatan kehidupan saya
yang masih menahan saya untuk maju akan semakin terurai benang kusutnya,
semuanya yang gelap dan tak nampak bisa semakin jelas, karena cahaya yang
datang mampu meniadakan kegelapan yang saya alami di masa-masa yang sudah saya
lewati. Memahami keadaan lebih baik, memandang hal-hal yang negatif menjadi
sesuatu yang positif (bukan reasoning, melainkan understanding), menerima “mereka”
apa adanya, membuka tangan dengan penuh cinta, memeluk jiwa-jiwa saya yang
terluka, menerima dan mengakui jiwa-jiwa jiwa saya yang tersakiti, karena “Dia
yang tersakiti telah kembali….”
Hidup Bukan Hanya Sekedar “Survive”
Iya ini yang saya terima pesan ilahinya. Saya bekerja bukan
hanya untuk menerima gaji saja, tapi pengalamannya juga, ilmunya juga dan
relasinya juga. Untuk itu saya tidak ingin membatasi diri saya dengan apa yang
sudah saya terima saja, tapi saya mencari apa yang belum bisa saya wujudkan, “menyatakan”
sebuah mimpi, bukan hanya sebuah angan-angan belaka, bukan lagi sebuah afirmasi
belaka. Lebih tinggi dari itu mewujudkan harapan kita, itulah misi ilahi kita
sebagai Spiritual Being, mampu mewujudkan tugas spiritual kita dengan
menggunakan pemberian Tuhan yang paling dahsyat yaitu pikiran kita, kreativitas
kita.
Hiduplah dengan hebat, bertumbuhlah dari dalam diri, karena
sukses bukan hanya sekedar kemauan melainkan perwujudan itu sendiri…..
No comments:
Post a Comment